Minggu, 05 Juni 2016

Meresensi Buku



Judul                           : Habibie (Tak Boleh Lelah dan Kalah)
Penulis                        : Fachmy Casofa
Penerbit                      : Metagraf (Imprin Tiga Serangkai)
Tahun Terbit              : Pertama, Februari 2014
Harga                          : Rp. 86.000,00

Kondisi carut-marut Indonesia, bisa dikatakan butuh teladan yang telah melakukan aksi konkret demi kebaikan dan kemajuan bangsa. Di antara mereka yang telah melakukan sumbangsih  adalah Bacharuddin Jusuf Habibie yang biasa dikenal dengan B.J. Habibie.
Habibie dikenal oleh dunia sebagai salah satu manusia jenius asal Indonesia. Tidak hanya menikmati kejeniusannya sendirian, Dengan kejeniusannya Habibie berkarya untuk bangsa. Yakni dengan membuat pesawat pertama karya anak negeri. Pesawat itu adalah pesawat N-250/ Gatotkoco.
Tujuh hari sebelum perayaan hari Kemerdekaan ke-50 Indonesia, atau biasa disebut dengan Indonesia Emas. Menjadi hari spesial karena seluruh rakyat mendapat kejutan tepatnya pada 10 Agustus 1995 hari kamis pukul 10.15 pesawat N-250/ Gatotkoco, melesat ke angkasa biru dari lapangan Udara Husein Sastranegara, Bandung.
Siapa yang tidak bangga dengan kemampuan anak bangsa membuat pesawat dengan tangan sendiri. Tak hanya itu pesawat yang dibuat Habibie adalah pesawat yang canggih di dunia kala itu. Pesawat N-250/ Gatotkoco adalah pesawat komersial ketiga yang menerapkan teknologi tinggi  kala itu, fly-by-wire, di mana dua sebelumnya yang menerapkannya adalah Airbus A300 di Eropa dan Boeing 777 di Amerika Serikat.
Untuk mencapai titik prestasi ini, bisa dikatakan Habibie harus berdarah-darah. Pasalnya anak pasangan Alwi Abdul Djalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo harus berjuang dengan keras sejak kecil. Waktu kecilnya jarang sekali dihabiskan untuk bermain di luar rumah seperti kebiasaan anak seusianya. Sesekali keluar rumah untuk melakukan kegemarannya yakni naik kuda.
Bila sedang di rumah, Rudy atau Udding (sapaan akrab Habibie semasa belia) adalah melakukan hal yang mengagumkan, yaitu membaca buku. Saking kuatnya keinginannya untuk menuntut ilmu dari sebuah buku, sampai membuat kakaknya Titi Sri Sulaksmi kesulitan mengajak Habibie untuk bermain di luar. Bahkan, bila saja sudah berhasil membujuk Rudy untuk main di luar, selalu saja Habibie memiliki cara untuk kembali ke rumah lagi, dan menenggelamkan diri dalam lautan ilmu dengan membaca buku-buku.
Kebiasaan membaca itu tergolong unik dan bahkan bisa dikatakan sangat jarang dipunyai anak-anak seusianya di kampungnya. Godaan alam indah Pare-Pare yang menginspirasikan banyak kreasi jenis permainan yang dihasilkan oleh anak-anak belia sepertinya, sepertinya tidak begitu berhasil merayu Habibie untuk jauh-jauh dari buku dan ilmu.
Bila sudah melihat buku, begitu laparnya ia hingga dilahap semua ilmunya. Habis tak tersisa, dengan binary mata tajam yang mengisyaratkan antusiasme dan rasa penasaran akan banyak hal yang khas dirinya. Biasanya orang yang memiliki antusiasme yang tinggi pada ilmu akan begitu teguh dan kukuh dalam mempertahankan prinsip yang ia yakini. Apa pun ia kerahkan bila memang apa yang diyakininya benar dan patut untuk diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Begitu juga dengan Habibie.
Sejak SD Habibie sudah terbiasa berprestasi, bahkan semasa SMA prestasinya semakin tampak sekali kecemerlangannya. Nilai 10 seringkali didapatnya ketika mengerjakan pelajaran eksakta. Setelah SMA rampung, Habibie melanjutkan ke jenjang berikutnya ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang sekarang bernama ITB.
Namun, tidak lama Habibie menuntut ilmu di ITB. Setelah enam bulan kuliah di sana, Habibie mendapatkan izin belajar di Jerman dari Kantor Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan sistem delegasi. Jadi, Mendikbud hanya memberi kemudahan dan legalitas kepadanya untuk membeli valuta asing sebagai biaya pendidikan selama di Jerman dan Habibie harus menanggung sendiri biaya untuk berangkat ke Jerman dan biaya hidup di sana.
Pada umur 19 tahun, Habibie berangkat ke Jerman. Di Jerman, Habibie belajar di Rheinsch Westfaelische Technische Honchschule Aachen, Fakultaet fuer Maschinenwesen, Aachen, Jerman dengan jurusan Konstruksi Pesawat Terbang. Tak seperti teman-temannya yang mendapat beasiswa penuh, Habibie adalah satu-satunya mahasiswa yang memakai paspor hijau, sedangkan kawan lainnya memakai paspor dinas RI. Artinya pula, teman-temannya tersebut mendapatkan uang sekolah, uang buku dan uang pakaian. Sehingga jika Habibie tidak lulus tepat waktu, maka itu akan membuat Habibie semakin lama tersiksa. Karenanya dia belajar dengan sungguh-sungguh hingga hari kelulusannya tiba. Penganugerahan Diplom Ingenieur (S2) pada usia 23 tahun dengan nilai magna cum laude.
Setelah lulus Habibie langsung mendapat kerja di Jerman. Total tahun Habibie menuntut ilmu dan bekerja di Jerman selama 20 tahun. Namun, semua itu dia lakukan demi kemajuan bangsa. Setelah lama di luar negeri dan bergaji besar Habibie tidak merasa rugi ketika akan kembali ke Negara sendiri dan berkarya di sana. Karena memang itulah tujuan Habibie menuntut ilmu selama ini, demi kemajuan dan kemandirian bangsa.
Kisah kehidupan Habibie memang penuh dengan inspirasi. Maka tak ayal jika buku karya Fachmy Casofa ini patut dibaca oleh semua anak negeri agar bisa bercermin. Karena kehidupan Habibie menjadi salah satu cermin yang baik bagi anak.  Sehingga lahir-lahirlah Habibie-Habibie berikutnya di masa mendatang. Selamat bercermin pada Habibie!





















Judul                           : Sebab Allah Bersama Kita – Jangan Pernah Menyerah!
Penulis                        : Aldilla D. Wijaya
Penerbit                      : Qultum Media
Tahun Terbit              : Ketiga, Desember 2015
Harga                          : Rp.59.000,00


“Tak ada alasan untuk berjalan, dan tak ada alasan untuk berhenti. Kita seperti tak punya pilihan. Kita berjalan hanya karena keadaan. Let it flow. Tak ada yang salah dengan istilah let it flow, cuma ya jangan keterusan mengikuti arus, karena kita sama-sama tahu hanya ikan yang mati yang selalu terbawa arus.”

Ketika memutuskan untuk berhijrah, maka banyak hal yang harus ditinggalkan di masa lalu. Kehidupan ini memang akan terus berjalan dan tidak berhenti pada satu titik. Namun yang menjadi tolak ukur keberhasilan kita untuk berhijrah atau tidak adalah kemauan dan usaha dari diri kita sendiri. Karena pada saatnya nanti, kita akan kembali kepada Allah. Oleh karena itu, hidup kita ini harus terarah dan jangan biarkan keadaan membuat kita berjalan sayup-sayup seperti tidak punya tujuan yang pasti.

Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.
– Buya Hamka –
Inilah yang membedakan kita dengan hewan. Kita sebagai manusia diberikan kelebihan khusus yang tidak serupa dengan hewan. Tidakkah kita ingin hidup yang Allah anugerahkan sekali saja di dunia ini menjadi hidup yang berkualitas, penuh berkat dan rahmat dari-Nya?
Manusia yang terjebak dalam ambisi duniawi akan sulit untuk meninggalkan atribut keduniawian sehingga merugilah ia bersama waktu. Oleh sebab itu, berhijrah mulai dari sekarang dan mulai dari diri kita sendiri toh tidak ada salahnya. Seperti yang disampaikan oleh penulis, “Jika tidak sekarang, kapan kita berubah?”
Setiap proses yang menghasilkan perubahan positif tentunya akan menjadikan hidup kita jauh lebih baik dari sebelumnya. Saya menyimpulkan dari keseluruhan isi buku Sebab Allah Bersama Kita, Jangan Pernah Menyerah! bahwa ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan ketika kita memutuskan untuk berhijrah—dan butir-butir tersebut adalah :

v  Rajin Mencari Ilmu Allah
Sejak kecil kita sudah disekolahkan oleh orangtua kita agar ilmu yang didapatkan bermanfaat untuk diri kita sendiri, keluarga, orang lain, maupun agama. Betul tidak? Orangtua mana yang ingin anaknya hidup tanpa ilmu dan pembelajaran dari sekolah maupun lembaga agama? Begitu pun juga jika kita ingin ‘dekati’ Allah, kita sangat perlu untuk menuntut ilmu di majelis agama.
v  Niat dan Tekad yang Kuat
Kalau kita hanya membayangkan melakukan sesuatu ini sesuatu itu adalah susah, maka hasilnya adalah nol besar. Kita akan sulit mencapai keberhasilan. Begitu pula yang dipaparkan penulis bahwa untuk menghancurkan dinding yang membuat kita tidak bisa berubah adalah dengan azimah atau tekad yang kuat. Allah akan senantiasa memperhatikan setiap langkah yang kita lewati dan Allah pasti akan memberikan cobaan di waktu-waktu kita mulai menginjak dinding yang sudah dihancurkan tadi.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-Ankabut [29]: 2)

v  Perhatikan Teman-Teman Pergaulan
“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang di antara kalian mencermati dengan siapa ia berteman.”
(HR. Tirmidzi)
Kita memang dianjurkan untuk berbuat baik tanpa memandang bulu. Tapi untuk urusan akhirat, kita perlu mem-filter dengan siapa kita akan bergaul. Karena ini akan sangat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku kita di lingkungan tersebut.
v  Belajar dari Pengalaman Orang-Orang yang Berubah
Dari setiap kisah hidup para nabi, ulama-ulama besar, dan orang-orang yang terdahulu menyisakan beberapa pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Seperti kisah akhir kehidupan Fir’aun yang tenggelam di laut karena ingin mengejar pasukan Nabi Musa yang sudah diselamatkan Allah terlebih dahulu.
v  Jangan Lelah Untuk Berdoa
Keinginan yang kuat akan menghasilkan energi yang kuat pula apabila kita mampu mempertahankan dan meningkatkan doa kita setiap harinya. Dan energi tersebut dapat menyambungkan antara keinginan kita dengan dikabulkannya doa. Anggaplah seorang perokok yang ingin berhenti merokok, pernahkah ia meminta kepada Allah agar dihilangkan dari kebiasaan buruk tersebut?


v  Isi Ulang Iman Kita dengan Rutin Datang Ke Majelis Taklim
Sama seperti mobil yang bensinnya harus diisi ulang, layaknya iman di hati kita ini juga perlu di recharge agar bisa kembali ‘sehat’ dan mampu menjalani aktivitas penuh untuk mengejar surganya Allah.
Nah, kalau sudah masuk dalam tahap yang lebih dalam, proses hijrah kita ini rasanya tidak akan afdol kalau tidak bisa mengoptimalkan ibadah secara keseluruhan. Tidak usah muluk-muluk, untuk di awal-awal sebaiknya kita coba untuk sempurnakan ibadah wajib saja dulu. Karena yang wajib tidak akan pernah berubah menjadi sunnah sedangkan sunnah bagi sebagian orang mukmin sudah menjelma menjadi kegiatan yang diwajibkan. Jika kita sudah mampu bertahan dalam ibadah wajib, barulah kita tingkatkan dengan menjalankan ibadah yang sunnah seperti menjaga wudhu, shalat tahajud, shalat dhuha dan puasa senin-kamis. Kemudian, dibarengi dengan tadabbur Al-Qur’an yang menjadi perpaduan yang sangat baik dalam step kita menuju satu tangga lagi untuk semakin ‘dekat’ dengan Allah.
“Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur’an maka hadirkanlah hatimu saat membaca dan mendengarkannya.”
– Ibnu Qayyim –

BAGAIMANA CARANYA AGAR TETAP ISTIQAMAH?
 “Hendaknya kamu tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga.”
-Abu Bakar RA-
Umar bin Khattab ra: “Hendaknya kita bertahan dalam satu perintah atau larangan, tidak berpaling, seperti berpalingnya seekor musang.”
-Umar Bin Khattab-
Utsman bin Affan ra: “Istiqamah artinya ikhlas.”
-Utsman Bin Affan-
Ali bin Abi Thalib ra: “Istiqamah adalah melaksanakan kewajiban.”
-Ali Bin Abi Thalib-
Ibu Abbas ra: “Istiqamah mengandung 3 macam arti yaitu istiqamah dengan lisan (bertahan terus mengucapkan kalimat syahadat), istiqamah dengan hati (terus melakukan niat yang jujur), dan istiqamah dengan jiwa (senantiasa melaksanakan ibadah dan ketaatan secara terus-menerus).
-Ibu Abbas-
 “Tetap berada di atas jalan yang lurus.”
-Ar-raaghib-
 “Tetap dalam ketaatan.”
-Imam An-Nawawi-
 “Istiqamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah.”
-Mujahid-
 “Mereka beristiqamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menoleh kiri dan kanan.”
-Ibnu Taimiah-

Semua pemaparan mengenai arti kata istiqamah di atas dapat disimpulkan yaitu kekonsistenan seseorang dalam berbuat kebaikan yang terus-menerus tanpa memikirkan balasan yang akan diterimanya dalam artian ikhlas.

Menurut saya buku ini telah banyak memberikan energy positif untuk semua orang dan bisa dijadikan penuntun untuk yang belum terlalu memantabkan niatnya untuk berhijrah. Buku ini tidak menggurui, hanya menjelaskan apa itu artinya berhijrah dan bahaimana caranya untuk berhijrah. Buku ini juga menggambarkan tentang arti kegagalan, agar kita tetap berpikir positif, berdoa, berusaha dan berhijrah kearah yang lebih baik agar bisa mendapatkan kesuksesan yang sesuai ajaran alqur’an dan al-hadist.

“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit”
-Ali Bin Abi Thalib-

“Jangan pernah menyalahkan Allah atas tertundanya ijabah atas permintaanmu, tapi perbaikilah sikapmu yang suka menunda-nunda perintah-Nya”

 “Man jadda wajada” artinya “Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”


Selasa, 26 April 2016

PILKADA JAKARTA 2017




Pilkada adalah Pemilihan Gubernur dan pemilihan Bupati/Walikota yang merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memilih Gubernur dan Bupati/Walikota berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada atau Pemilukada) dilakukan secara langsung oleh penduduk daerah administratif setempat yang memenuhi syarat. Pemilihan kepala daerah dilakukan satu paket bersama dengan wakil kepala daerah.
Dalam penyelenggaraan PILKADA telah diatur dalam Undang-Undang berikut adalah Dasar Hukum Penyelenggaraan PILKADA yang antara lain adalah :
  1. Undang-undang (UU) Nomor: 32 tentang Pemerintah Daerah
  2. Undang-undang (UU) Nomor: 32 tentang Penjelasan Pemerintahan Daerah
  3. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor: 17 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PEMILIHAN, PENGESAHAN PENGANGKATAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH
  4. PP Pengganti UU Nomor: 3 tentang PERPU NO 3 TAHUN 2005
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta akan berlangsung pada 2017, bersamaan dengan pilkada di 100 daerah lainnya. Menurut Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hadar Nafis Gumay, ada hal yang perlu diantisipasi di Pilkada DKI Jakarta. “DKI Jakarta adalah satu-satunya provinsi yang pilkadanya dapat berlangsung 2 putaran. Di Pilkada DKI, syarat pemenang harus mencapai 50 persen plus 1. Sementara syarat ini tak berlaku di daerah lain”.
Anggaran untuk pesta demokrasi di provinsi tersebut telah dipersiapkan dan mencapai Rp 576 miliar. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat, dana tersebut telah dianggarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2016. Namun demikian, angka tersebut masih dalam estimasi atau perkiraan. Dari catatan Kemendagri, untuk tahapan di KPU, anggaran yang dipersiapkan sebesar Rp 480 miliar. Sedangkan anggaran untuk Bawaslu atau Panwas mencapai Rp 96 miliar. Total mencapai Rp 576 miliar. Dana  itu pun belum termasuk dana pengamanan, yang belum diajukan baik Polri maupun TNI.
"Iya itu baru estimasi. Jadi proyeksi semata. Belum standarisasi," ujar Dirjen Keuangan Daerah Kemendagri Reydonnyzar Moenek di Kantor KPU Pusat, Jakarta, Selasa 19 April 2016.
Soal biaya pengamanan, pria yang akrab disapa Donny itu mengatakan, baik TNI maupun Polri akan segera berkoordinasi. "Iya pasti, itu kan memang belum kelihatan dianggarkan. Tapi mereka siap," tegas Donny. Lalu kira-kira berapa anggaran Pilkada DKI Jakarta 2017 seluruhnya? "Kita tak tahu. Tapi yang di kami itu kan sudah melalui APBD. Ini bisa berkurang dan ini bisa saja bertambah," tutur Doddy.
           Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti memaparkan tiga isu yang menurutnya bisa dimanfaatkan para calon untuk menyaingi Ahok di Pilkada DKI 2017. Pertama, mestinya kandidat-kandidat yang ada bisa meyakinkan publik, mereka bisa menjalankan sistem transparansi pemerintahan yang jauh lebih baik daripada yang dilakukan Ahok.

“Jadi kalau mereka membicarakan format transparansi yang jauh lebih baik dari Ahok, kan itu lebih menarik,” kata Ray
             Proyek reklamasi 17 pulau di pantai utara (pantura) Jakarta juga menurutnya bisa menjadi senjata untuk mengalahkan Ahok. Maka dari itu, jika penantang Ahok mampu mengkampanyekan diri sebagai penolak proyek reklamasi, dan mempu memberikan solusi yang lebih baik, bisa dipertimbangkan untuk dipilih masyarakat Jakarta.

“Ahok itu kan sudah diketahui menyetujui reklamasi Pantai Utara. Sekarang, pandangan dari calon-calon yang lain mereka setuju juga atau tidak? Kalau tidak apa solusinya?” ucap Ray.

Terakhir, cara Ahok dalam menjalankan pembangunan juga bisa menjadi senjata untuk mengalahkannya. Apalagi menurutnya selama kebijakan-kebijakan Ahok diposisikan sebagai gubernur yang melayani kelas menengah ke atas.

“Sekarang apakah calon-calon yang lain mau melayani seluruh warga DKI Jakarta dari kelas bawah sampai ke kelas yang paling tinggi,” kata Ray.

          Partai Nasdem menyatakan tidak akan mencabut dukungannya terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, meski Ahok telah menyatakan akan maju ke Pemilu Gubernur DKI Jakarta 2017 melalui jalur independen.
"Tidak ada keuntungan di sini dan tidak ada kerugian. Ini adalah satu misi yang harus dijalankan secara konsisten," kata Surya di Samarinda, Senin (14/3/2016).
Fenomena ini, lanjut dia, harus dijadikan momentum bagi partai politik sebagai refleksi diri terkait apakah ada kekurangan-kekurangan yang membuat orang lebih memilih jalur independen ketimbang jalur partai politik.
Menurut Surya, tidak ada salahnya jika partai politik mulai menyiapkan konsolidasi yang melibatkan partisipasi publik lebih tinggi, dengan tujuan meraih apresiasi publik yang lebih kuat terhadap partai politik.

SUMBER :